Jumat, 02 Oktober 2009

Sistem Informasi Geografi

Pengantar

Sebagai seorang pengambil kebijakan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang Penginderaan Jauh (PJ) yang meliputi wahana, sensor, sisitem pengiriman data, desiminasi data, dan aplikasi data. Selain itu seorang pengambil kebijakan harus juga menguasai Sistem Informasi Geografi (SIG) yang meliputi bidang-bidang hardware, software, pemetaan, GPS, ilmu kebumian, dan ilmu wilayahlainnya. Di Indonesia, SDM pada bidang-bidang tersebut belum berkembang secara merata. Pada bidang aplikasi data lebih banyak ditekuni dari pad bidang-bidang yang lain. Oleh karena itu SDM PJ dan SIG perlu dikembangkan sesuai dengan porsi masing-masing. Selain itu, SDM PJ dan SIG ynang telah ada perlu diatur dan dikelola dengan lebih baik agar dapat diberdayakan untuk penanganan data Sumber Daya Alam dalam rangka pengembangan wilayah.

Pada intinya disini yaitu pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan memerlukan data dan informasi yang dapat diperoleh dari analisis PJ dan SIG. Setiap data penginderaan jauh dicirikan dengan sifat spasial, spectral dan tenaga temporal memilki peran yang khasterhadap perolehan data sumberdaya alam dan lingkungan. Manfaat PJ dan SIG terasa diberbagai bidang sperti pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan, pengembangan wilayah, kajian bencana alam dan dampak lingkungan, pendidikan, kesehatan dan pajak. (Hartono, 2004).

Didini penulis akan mencoba sebagai seorang pengambil kebijakan pada daerah Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng dalam rangka pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Sehingga akhirnya nanti dapt menyusun erencanaan pengembanganpotensi yang paling cocok dikembangkan sehingga dapat menyusun perencanaan pengembangan potensi daerah agar pengmbilan keputusan dapat secara tepat.

Rasional

Kecamtan Tejakula merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Buleleng. Letak Secara astronomis kecamatan Tejakula terletak pada 8°56’LS - 115°8¢BT. Sedangkan secara administrasi kecamatan Tejakula memiliki batas wilayah sebagai berikut:

  1. Bagian utara berbatasan langsung dengan Laut Bali.
  2. Bagian timur berbatasan dengan Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem.
  3. Bagian selatan berbatasan dengan Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
  4. Bagian barat berbatasan dengan Desa Bukti Kecamatan Kubutambahan.

Mengenai luas Kecamatan Tejakula adalah 97,68 Km². Keseluruhan luas kecamatan ini terbagi dalam 10 desa yang ada di Tejakula. Adapun luas masing-masing desa yaitu:

No

Nama Desa

Luas (Km²)

1

Desa Tembok

10,81

2

Desa Sambirenteng

9,40

3

Desa Panuktukan

6,25

4

Desa Les

7,69

5

Desa Tejakula

13,96

6

Desa Madenan

13,73

7

Desa Bondalem

6,69

8

Desa Julah

4,70

9

Desa Sambiran

17,79

10

Desa Pacung

6,66

Sumber : BPS, 2002 dalam Skripsi Nicola Da Costa Baros (2003)

Dari luas 97,68 Km², penduduknya yang tersebar sebagian besar memanfaatkan lahan pada sector pertanian lahan kering, yang berupa tegalan, perkebunan campuran dan pekarangan. Akan tetapi pemanfaatan lahan pertanian belum maksimal, sehingga pendapatan masyarakat menjadi rendah. Dengan keadaan yang demikian maka sebagai seorang pengambil kebijakan memerlukan sumber informasi utuk diproses dengan berbagai pendekatan sehingga pada nantinya menemukan solusi pemecahan masalah tersebut agar menjadi lebih baik.

In Put (sumber informasi yang diperlukan) meliputi :

1. Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Kecamatan Tejakula.

2. Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Tejakula Skala 1 : 25.000

3. Peta Topografi Kecamatan Tejakula Skala 1 : 25.000

4. Data Curah Hujan

5. Data observasi Kelapangan.

Pemrosesan

Dari Sumber Informasi tersebut diatas maka penulis akan mencoba mengolah data tersebut, mulai :

1. Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Kecamatan Tejakula.

Informasi yang akan diperoleh nanti sangat banyak. Untuk menggali informasi yang ada pada foto udara, kita sudah memahami unsur-unsur interpretasi foto udara yang meliputi langkah-langkah sebagi berikut :

a. Deteksi

Deteksi merupakan tahap awal dalam interpretsi foto udara yaitu menemungenali obyek yang akan dikaji dengan mengunakan jenis foto udara tertentu. Dalam kaitan praktikum pengindaraan jauh ini. Fenomena yang terlihat adalah bentuklahan, penggunaan lahan, kemiringan lereng yang mempunyai karakteristik tersendiri. Dari hasil deteksi gambaran awal yang diperoleh yaitu mengenai :

v Bentuklahan.

Kecamatan Tejakula bentuklahan yang dapat dikenali antara lain Bentuklahan bentukan lahan asal Denudasional pada bagian lereng atas sampai lereng tengah dan Bentuklahan bentukan asal proses Fluvial dengan dataran Aluvial pada lereng bawah atau kaki dan Bentuklahan bentukan asal proses marin pada bagian tepi pantainya.

v Kemiringan lereng

Kemiringan lereng biasanya mengikuti bentuklahan yang terdapat pada foto udara. Pada Bentuklahan bentukan asal proses Denudasional pada daerah ini kemiringan lerengnya berkisar antara 8-55% atau pada tingkat III-V menurut klasifikasi kemiringan lereng A. Desaunettes. Sedangkan pada bentuklahan bentukan asal proses Fluvial berkisar antara 2-8%, dan 8-16% atau pada tingkat II, sedangkan untuk dataran Aluvial begitu juga dengan bentuklahan asal marin memiliki kemiringan lereng berkisar antara 0-2%.

v Penggunaan Lahan

Seperti kemiringan lereng, penggunaan lahannya juga biasanya mengikuti kemiringan lereng dan bentuklahannya. Yaitu pada bentuklahan Denudasional penggunaan lahan yang dominan dapat dideteksi adalah hutan, dan kebun campuran dan tegalan. Sedangkan pada bentuklahan fluvial terdeteksi penggunaan lahannya yang dominan adalah permukiman dan jalan. Seta pada bentuklahan asal marin penggunaan lahannya belum dapat dikenali.

b. Identifikasi

Tahap berikutnya adalah melakukan indentifikasi terhadap obyek yang kita kaji dengan mencirikan obyek yang telah telah dideteksi dengan menggunakan keterangan yang cukup seperti unsur-unsur interpretasi citra yaitu: rona, bentuk, situs, ukuran, tekstur, pola, tinggi, bayangan dan asosiasi. Dengan mengunakan alat sterioskop cermin dan berpedoman pada unsur-unsur interpretasi citra, maka fenomena-fenomena pada foto jelas terlihat seperti kenampakan:

a. Permukiman dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Rona : cerah

Warna : merah cerah

Tekstur : kasar

Bentuk : kotak-kotak

Pola : mengelompok dan mengikuti jalan.

b. Kebun campuran dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Rona : gelap

Warna : merah gelap

Tekstur : kasar

Ukuran : luas

Pola : megelompok

c. Jalan aspal dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Rona : sangat terang

Warna : merah sangat cerah

Tekstur : halus

Ukuran : sempit

Bentuk : pita/garis memanjang.

d. Hutan dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Rona : gelap

Warna : merah gelap

Tekstur : kasar

Ukuran : luas

e. Tegalan dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Rona : agak gelap

Warna : merah agak gelap

Tekstur : kasar

Dari obyek-obyek yang dapat diidentifikasi tersebut diatas, lokasinya berada pada di beberapa bagian foto udara.

c. Klasifikasi.

Pada tahap klasifikasi yaitu dengan mengelompokan fenomena-fenomana yang sama dari hasil deteksi dan identifikasi terhadap fenomena yang tampak dalam foto udara. berdasarkan hasil klasifikasi yang dilakukan dengan mengelompokan kesamaan fenomena yang tampak pada foto yaitu sebagai berikut :

Ø Bentuklahan.

Dari hasil klasifiaksi yang dilakukan maka bentuklahan Kecamatan Tejakula adalah terdiri dari 3 bentuklahan yaitu : Bentuklahan bentukan asal proses Denudasional, Bentuklahan bentukan asal Fluvial dengan dataran Aluvialnya, dan Bentuklahan bentukan asal proses marin.

Sebagain besar daerah Buyan Dan Tamblingan memliki betuklahan bentukan asal proses Denudasional yang berupa perbukitan Denudasional terkikis kuat pada lereng atas, terkikis lemah pada lereng tengah perbukitan dan terkikis lemah pada bagian kaki lereng. Perbukitan Denudasional ini terbentang dari timur Tejaklua kebarat pada sisi selatannya. Bentuklahan yang lain yaitu berupa Bentuklahan bentukan asal Fluvial yang dibentuk oleh adanya gerakan air yang mengalir dan proses sedimentasi dari dataran tinggi ke daerah yang lebih rendah. Bentuklahan ini berhubungan dengan daerah-daerah penimbunan seperti lembah-lembah, sungai-sungai besar dan dataran Aluvial. Dataran Aluvial ini berada di sisi utara bentuklahan denudasional. Sedangkan bentuklahan asal marin membentang pada garis pantai kecamatan Tejakula.

Ø Kemiringan Lereng.

Dilihat dari bentuklahan di atas maka dapat diklasifikasi kemiringan lereng sebagi berikut:

Pada Bentuklahan bentukan asal proses Denudasional pada daerah ini kemiringan lerengnya berkisar antara 8-16% (agak curam/tingkat III), 16-25% (curam/ tingkat IV), dan 25-55% (sangat curam/ tngkat V) Sedangkan pada bentuklahan bentukan asal proses Fluvial berkisar antara 2-8% (landai/ tingkat I), dan 8-16% melereng/tingkat II) dan untuk dataran Aluvial dan bentuklahan asal marin memiliki kemiringan lereng berkisar antara 0-2% (datar/ tingkat I).

Ø Penggunaan Lahan.

Pengaruh bentuklahan dan kemiringan lereng sangat berkorelasi pada penggunaan lahan begitu juga pada daerah pengamatan ditemukan berbagai variasi penggunaan lahan. Berdasarkan pengaruh tersebut maka penggunaan lahan yang dapat diindentifikasi adalah sebagai berikut :

· Pada bagian lereng atas dengan bentuklahan Denudasional terkikis kuat hanya ditemukan penggunaan lahannya hanya hutan, dan tegalan. Hal ini dipengaruhi oleh kemiringan lerengnya sangat curam. Dan tidak cocok untuk permukiman.

· Pada bagian lereng tengah dengan bentuklahan Denudasional terkikis sedang, penggunaan lahannya berupa, jalan, permukiman, dan tegalan. Sedangkan pada bentuklahan Fluvial terkikis sedang di lereng tengah ini penggunaan lahannya berupa, jalan, permukiman dan kebun campuran.

Pada bagian lereng kaki dengan bentuk lahan terkikis lemah terdapat bentuklahan Fluvial lemah terdapat penggunaan lahan berupa : jalan, permukiman, sawah, kebun campuran dan tegalan. Sedangkan pada bentuklahan Aluvial terkikis lemah yang sempit yang berlokasi di pinggir selatan danau, penggunaan lahan berupa pemukiman penduduk, jalan dan kebun campuran.

4. Evaluasi/ Analisis.

Evaluasi/ analisis adalah tahap akhir dalam interpretasi citra yaitu dengan menarik kesimpulan atau menganlisis tahap-tahap interpretasi sebelumnya yaitu menganalisis dari hasil deteksi, identifikasi dan Klasifikasi terhadap fenomena pada foto udara yang dikaji. Berdasarkan tahap-tahap tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Penggunaan lahan diperuntukan untuk pertanian dan kering yang berupa tegalan dan kebun campuan.

Ari hasil interpretasi foto udara tersebut maka diperoleh sejumlah peta yang memudahkan dalam perencanaan pengembangan wilayah yaitu :

Ø Peta Bentuklahan Hasil Interpretasi Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Kecamatan Tejakula.

Ø Peta Kemiringan Lereng Hasil Interpretasi Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Kecamatan Tejakula.

Ø Peta Penggunaan Lahan Hasil Interpretasi Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Kecamatan Tejakula.

Pendekatan iklim

Setelah melakukan Interpretasi Foto Udara langkah selanjutnya yaitu mengkaji iklim Kecamatan Tejakula. Dalam mengkaji iklim, diperlukan data curah hujan minimal dalam jangka waktu 10 tahun. Berhubung penulis belum memperoleh data curah hujan dalam decade terakhir, maka kami mengutif dari literature yang berkaitan dengan kondisi Iklim kecamatan Tejakula. Yaitu Tejakula memiliki tipe iklim E(kering) yaitu menurut tipe iklim Smith dan Ferguson.

LUAS WILAYAH MENURUT PENGGUNAANNYA DIRINCI PER DESA/ KELURAHAN, TAHUN 2004

Desa/Kelurahan

Luas

(Km²)

Sawah

(ha)

Tegalan

(ha)

Perkebunan

(ha)

Pekarangan

(ha)

1. Sembiran

17,79

-

966,80

726,00

55,00

2. Pacung

6,66

-

564,00

43,00

25,00

3. Julah

4,70

-

389,30

51,00

23,30

4. Bondalem

6,69

-

560,00

50,00

51,00

5. Madenan

13,73

-

635,00

592,00

48,00

6. Tejakula

13,96

-

400,50

374,00

88,00

7. Les

7,69

-

274,00

125,00

52,00

8. Penuktukan

6,25

-

183,00

53,00

75,00

9. Sambirenteng

9,40

-

525,00

44,00

44,00

10. Tembok

10,81

-

700,00

79,00

56,00

Sumber : - Kepala Desa se-Kecamatan Tejakula

- Mantri Pertanian Kecamtan Tejakula

Tidak ada komentar:

Posting Komentar