Jumat, 02 Oktober 2009

Fotogrametri

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada era pembangunan ini, diberbagai bidang perencanaan dan pengembangan wilayah perlu disiapkan tenaga teknisi, analisis dan pengelola di bidang pengolahan data dan informasi kebumian, yang mampu menangani data informasi (numeric dan spasial), menganalisis, melakukan control aktivitas manusia, dan mampu membuat perencanaan kegiatan. Tuntutan terhadap spesifikasi berbagai keahlian ini menimbulkan aktivitas yang disebut pengembangan sumber daya manusia. (Dulbahri, 1995 dalam Hartono, 2004).
Pada era informasi seperti sekarang ini, perkembangan teknologi PJ dan SIG semakin pesat. Perkembangan tersebut ditandai oleh perkembangan sensor (kamera, scanner, hingga hyperspectral). Pengelolaan dan penanganan data, maupun keragaman aplikasinya. (Hartono, 2004). Salah satu aplikasi dari penginderaan jauh dalah pada bigang ilmu fotogrametri. Fotogrametri ialah ilmu, seni dan teknologi untuk memperoleh ukuran terpercaya dari foto udara. (Kiefer, 1993).
Dari pengertian tersebut obyek yang dikaji adalah kenampakan dari foto udara dengan menginterpretasinya menggunakan sistem penginderaan jauh. Akan tetapi analisis fotogrametri dapat berkisar dari pengukuran jarak, luas dan elevansi dengan alat atau teknik, sampai menghasilkan berupa peta topografik. (Kiefer, 1993).
Aplikasi fotogrametri yang paling utama ialah untuk survey dan kompilasi peta topografik berdasarkan pengukuran dan informasi yang diperoleh dari foto udara atau citra satelit. Meskipun fotogrametri merupakan sebagian dari kegiatan pemetaan, tetapi ia merupakan jantung kegiatan tersebut karena fotogrametri merupakan cara deliniasi yang aktual atas detil peta.
Kegiatan fotogrametri berupa pengukuran dan pembuatan peta berdasarkan foto udara. Karena yang diukur berupa obyek-obyek yang tergambar pada foto udara. Perlu pula pengenalan atas obyek-obyek tersebut. Oleh karena itu dalam fotogrametri juga dipelajari pengenalan obyek yang lazimnya termasuk interpretasi
foto udara. Alat pengukuran dan pengenalan obyek, pengukuranlah yang menjadi tujuan utama. (Sutanto, 1983).
Dalam praktikum ini, penulis mencoba melakukan interpretasi foto udara dalam kajian fotogrametri dengan mengambil 5 obyek yang nampak pada foto udara. Obyek tersebut akan diukur sehingga menemukan luas dari masing-masing obyek. Adapun foto udara yang diinterpretasi adalah foto udara inframerah berwarna semu skala 1 : 30000 di daerah Kaldera Beratan Purba, Danau Buyan , Pancasari-Buleleng.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari diadakan praktikum ini yaitu :
1.2.1. Agar mahasiswa mampu memahami dan dapat mengaplikasikan Fotogrametri.
1.2.2. Agar mahasiswa mampu menginterpretasi obyek-obyek yang tampak pada foto udara/citra.
1.2.3. Agar mahasiswa mampu mengukur luas pada masing-masing obyek yang tampak pada foto udara dan mahasiswa dapat membuat peta tematik penggunaan lahan dari interpretasi foto udara.
1.3. Metode
Adapun metode yang digunakan dalam pratikum ini yaitu :
• Metode Observasi
Metode observasi adalah suatu metode dengan melakukan observasi langsung ke lapangan. Adapun yang diobservasi adalah fenomena-fenomena yang tampak pada foto udara.
• Metode Kepustakaan
Metode kepustakaan yaitu metode yang penulisannya bersumber dari berbagai sumber pustaka, diantaranya berupa buku-buku, peta, maupun literatur yang terkait dengan masalah ini. Selain itu juga metode ini mempunyai fungsi ganda yaitu memudahkan dan memperluas wawasan tentang masalah yang akan dikaji, kemudian merupakan sumber terlengkap dari perbandingan data di lapangan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Kajian Fotogrametri
Fotogrametri berasal dari kata Yunani yakni dari kata “photos” yang berarti sinar, “gramma” yang berarti sesuatu yang tergambar atau ditulis, dan “metron” yang berarti mengukur. Oleh karena itu “fotogrametri” berarti pengukuran scara grafik dengan menggunakan sinar. (Thompson, 1980 dalam Sutanto, 1983). Dalam manual fotografi edisi lama, fotogrametri didefinisikan sebagi ilmu atau seni untuk memperoleh ukuran terpercaya dengan mengguanakan foto.
Di dalam manual edisi ketiga, definisi fotogrametri dilengkapi dengan menambahkan interpretasi foto udara kedalamnya dengan fungsi yang hampir sama kedudukannya dengan penyadapan ukuran dari foto. Setelah edisi ketiga pada tahun 1996, definisi fotogrametri diperluas lagi hingga meliputi penginderaan jauh. (Sutanto, 1983).
Dalam kajian fotogrametri dimaksud di sini adalah fotogrametri dalam arti terbatas yaitu : fotogrametri sebagai dasar untuk interpretasi foto udara vertical karena foto udara vertical merupakan foto yang terbanyak digunakan dalam interpretasi foto udara.
Foto udara vertical dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap bidang referensi yaitu bidang datar yang merupakan ketinggian rata-rata daerah yang dipotret, atau daerah yang sempit dengan arah grafitasi.
2.2. Kajian Pengukuran Luas Obyek.
Luas suatu obyek dapat diukur langsung pada ortofoto, akan tetapi tidak diukur pada foto udara bila dikehendaki ketelitian yang tinggi. Bila tidak ada ortofoto pengukuran luas seyogyanya dilakukan pada peta planimetrik hasil interpretasi foto udara. Semakin kecil skala citra, maka ketelitian pengukuran luasnya semakin menurun.
Pengukuran luas dapat dilakukan dengan cara sederhana, cara mekanik, dan cara computer. Cara sederhana ini meliputi antara lain cara bujur sangkar (square method), cara strip (strip method), cara transek (transec Method), dan cara grid titik
(dot grid method). Cara mekanik dilakukan dengan planimeter, dan cara mutakhir dilakukan dengan computer.
2.3. Kajian Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan teknik untuk memperoleh data dan informasi tentang obyek dan gejala menggunakan alat tanpa kontak langsung denga obyek yang dikaji. (Hartono, 2004). Dalam penginderaan jauh terdapat interpretasi data baik itu berupa citra atau foto udara. Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut.
Data pengindaran jauh berupa data digital dan data visual (manual). Dalam Interpretasi citra dilakukan melalui 6 tahap yaitu :
1. Deteksi adalah penyadapan data secara selektif atas objek dan elemen dari citra.
2. Indentifikasi adalah proses penemukenali objek yang akan dikaji.
3. Proses analisis atau pemisahan dengan penarikan garis batas kelompok objek atau elemen yang memiliki kesamaan wujud.
4. Deduksi yaitu proses yang sangat rumit yang dilakukan berdasarkan asas Konvergensi Bukti yaitu penggunaan bukti-bukti yang masing-masing saling mengarah ke satu titik simpul
5. Klasifikasi yaitu dilakukan untuk menyusun objek dan elemen ke dalam sistem yang teratur
6. Idealisasi yaitu : penggambaran hasil interpretasi tersebut.
Analisis Citra terdiri dari :
􀂙 Memisahakn dan mendeteksi melalui rona dan warna setelah itu mendelesiasi.
􀂙 Mengklasifikasi melalui kelompok rona dan warna.
Interpretasi Citra terdiri dari kegiatan
􀂙 Mengenali hubungan Spasial melalui :Ukuran, Bentuk, Tekstur, dan Pola.
􀂙 Menemukan Pola melalui : BentukLahan, Kultural, Aliran, Penggunaan Lahan, Penutup lahan.
Dalam interpretasi citra harus memahami 9 unsur/ kunci interprtasi diantaranya:
o Rona Atau Warna
􀂃 Rona adalah tingkat kegelapan atau kecerahan obyek pada citra atau tingkatan dari hitam ke putih, sedangkan
• Warna adalah ujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan kombinasi band.
o Bentuk
• Variabel kualitatif yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu obyek,misal : bersegi, membulat, memanjang,dll
o Ukuran
• Atribut obyek yang antara lain berupa jarak,luas,tinggi,lereng dan volume. Ukuran tergantung pada skala/resolusi, contoh bangunan industri dibanding rumah
o Tekstur
• Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra.Tekstur sering dinyatakan dengan kasar dan halus.
o Pola
• Pola terkait dengan susunan keruangan suatu obyek merupakan ciri yang menandai bagi banyak bentukan manusia dan bagi beberapa obyek alamiah
o Situs/ lokasi
Situs adalah letak suatu obyek terhadap obyek lain disekitarnya atau letak obyek terhadap bentang darat.
• Mangrove 􀃆 dekat pantai/tepi sungai berair payau,
• Hutan 􀃆 dataran tinggi,
• Sawah 􀃆 dataran rendah.
o Bayangan
• Bayangan terkait dengan obyek yang tidak tampak atau sanar-samar saat pemotretan, karena pengaruh sinar matahari, hal ini berguna untuk identivikasi kapan saat pemotretan dan arah orientasi foto.
o Asosiasi
• Keterkaitan obyek satu dengan obyek lainnya
2.4. Kajian Penggunaan Lahan
Menurut Malingreau dalam Ejasta (1998) mendefinisikan penggunaan lahan sebagai berikut, bahwa penggunaan lahan adalah segala macam campur tangan manusia baik secara permanen maupun secara siklus terhadap suatu kumpulan sumber daya alam dan sumber daya buatan yang scara keseluruhan disebut lahan dengan tujuan untuk mencapai kebutuhan hidupnya, baik material, spiritual maupun keduanya.
Menurut Sutanto dalam Ejasta (1998), mengemukakan definisi penggunaan lahan yaitu penggunaan lahan merupakan kegiatan manusia terhadap lahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini berarti penggunaan dari gabungan unsur-unsur yang meliputi aspek fisik, ekonomi, etnik, dan sosial.
Selain itu bahwa pengertian penggunaan lahan merupakan bagaimana pengaplikasian metode tertentu dalam pengelolaan lahan dengan penyesuaian kemampuan lahan tersebut. (Ejasta, 1998)
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Obyek yang Dapat Diinterpretasi Pada Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Pada Daerah Kaldera Beratan Purba Khususnya di Sekitar Danau Buyan dan Tamblingan.
Sebelum dapat melakukan delinasi yang nantinya akan dapat mengukur luas masing-masing obyek yang dideliniasi pada foto udara, ada beberapa persiapan. Adapun beberapa hal yang perlu dipersiapankan yaitu :
1. Meyiapkan Bahan yaitu menyiapakan bahan seperti kertas kalkir, plastik trasparan, spidol, pensil 2B, penggaris, Rapido berserta tintannya, serta sablonnya.
2. Menyiapkan Alat yaitu mengenai alat yang digunakan dalam interpretasi adalah sterioskop cermin, foto udara, dan Planimeter.
Setelah dipersiapkan bahan dan alat tersebut selanjutnya melakukan tahap berikutnya yaitu pada tahap pelaksanaan. Adapun pelaksanaan yang dilakukan adalah sebagi berikut :
􀂾 Melakukan mozaik yaitu suatu rangkaian kegiatan dengan menyambung beberapa foto udara yang dikaji. Dari 2 foto udara yang dipakai dilakukan mozaik dengan mengoverlaykan/menumpang tindihkan kenampakan yang sama pada foto udara yang berbeda sehingga memperoleh gambaran yang utuh.
􀂾 Melakukan Interpretasi
Setelah melakukan mozaik selanjutnya melakukan interpretasi dengan bantuan alat berupa sterioskop cermin. Dengan demikian dapat mempermudah menginterpretasi khususnya hanya sebatas deliniasi terhadap obyek foto udara.
Dari hasil deliniasi tersebut diperoleh beberapa kenampakan obyek. Adapun obyek yang tampak pada foto udara yaitu berjumlah 11 obyek pada lokasi yang berbeda-beda antar lain :
1. Danau Tamblingan
2. Danau Buyan
3. Permukiman
4. Lahan Kosong
5. Hutan
6. Lahan Kosong
7. Hutan
8. Hutan
9. Perkebunan
10. Hutan
11. Lahan Kosong
Dari kenampakan obyek tersebut terdapat beberapa kenampakan yang sama. Karena dalam hal ini hanya dibatasi 5 obyek yang akan dicari ukuran luasnya maka digunakan metode proporsional random sampling. Yaitu memilih secara acak dengan memperhatikan proporsinya sehingga dapat mewakili masing-masing obyek dan tidak ada obyek yang sama. Adapun obyek yang akan dicari luasnya yaitu :
I. Danau Tamblingan (no. 1)
II. Permukiman (no. 3)
III. Lahan Kosong (no. 4)
IV. Hutan (no. 5)
V. Perkebunan (no. 9).
3.2. Luas Masing-masing Obyek dengan Pengukuran Menggunakan Sistem Grid.
Sistem grid merupakan sistem pengukuran luas pada obyek yang dideliniasi dengan mengaris kotak-kotak pada obyek dengan ukuran tertentu. Ukuran yang penulis gunakan sebesar 1cm. Setelah daerah diberi kotak-kotak 1cm, maka mulai menghitung jumlah kotak yang terdapat pada obyek. Ketentuannya yaitu, jika lebih dari setengah, maka dihitung satu kotak. Kemudian kotak-kotak tersebut dijumlahkan dan dikalikan dengan skala foto udara.
Untuk memperoleh luas, maka ada beberapa cara yang dapat digunakan. Salah satu caranya adalah sebagai berikut :
1 kotak = 1 cm, jadi luasnya = panjang x lebar.
Luas kotak = 1cm x 1cm.
= 1cm2
Karena skalanya 1 : 30.000, maka :
1cm di peta = 30.000 cm di lapangan
1cm di peta = 300 m di lapangan
1cm2 di peta = 90000m2 di lapangan
1cm 2 di peta = 900 are
1cm2 di peta = 9 ha di lapangan.
1cm2 di peta = 0,09 Km2 di lapangan.
Jadi dari perhitungan tersebut, dapt diturunkan rumus :
Keterangan :
Lo : luas obyek
Σk : Jumlah kotak dalam obyek
9 ha/ 0,09km2 : luas satu kotak di peta
Lo = Σk x 9 ha.
Lo = Σk x 0,09 Km2.
atau
Dari hasil grid, perolehan kotak masing-masing obyek adalah sebagai berikut :
No
Nama Obyek
Jumlah kotak
Luas (ha) atau (km2)
I
Danau Tamblingan
19
171 atau 1,71 km2
II
Permukiman
29
261atau 2,61 km2
III
Lahan Kosong
7
69 atau 0,69 km2
IV
Hutan
111
999 atau 9,99 km2
V
Perkebunan
95
855 atau 8,55 km2
Penjelasan tabel :
I. Danau Tamblingan
Danau Tamblingan merupakan salah satu danau yang tampak pada foto udara dan hasil deliniasi, selain Danau Buyan. Obyek Danau Tamblingan setelah diberi kotak-kotak, berjumlah 19 kotak. Karena 1 kotak di peta sama dengan 1cm2 , maka
dilapangan luasnya untuk 1 kotak sama dengan 9 ha. Jadi luas keseluruhannya adalah 19 kotak dikalikan 9 ha yang hasilnya sama dengan 171 ha atau 1,71 km2
.
II. Permukiman
Setelah dideliniasi terdapat satu kawasan permukiman yang mengelompok pada sisi timur Danau Buyan. Pola mengelompok ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor relif yang relatif landai. Jika dilihat dari bentuklahannya, dareah permukiman ini adalah bentuklahan bentukan asal fluvial. Dari bentuk lahan ini, dapat dianalisis bahwa daerah ini memiliki tanah yang subur sehingga memudahkan aktivitas nmasyarakat untuk bercocok tanam.
Selain itu juga, permukiman ini juga dipengaruhi oleh adanya jalur transfortasi berupa jalan. Hal ini juga akan memudahkan dalam mobilitas penduduk.
Dari hasil sisitem gird, diperoleh jumlah kotak sebanyak 29 kotak. Dengan menggunakan rumus yang sudah ditetapkan, maka diperoleh hasil berupa luas daerah permukiman yaitu 261 ha atau 2,61 km2
III. Lahan Kosong
Lahan kosong dapat dilihat pada foto udara yaitu dipinggir-pinggir danau yaitu tepatnya disebelah selatan Danau Buyan dan Danau Tamblingan. Dalam kajian ini yang akan dikaji yaitu mengenai lahan kosong yang ada di sisi selatan Danau Tamblingan. Terjadinya lahan kosong di sini yaitu diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu diantaranya disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia. Yang disebabkan oleh faktor alam yaitu terjadinya penyusutan air danau sehingga terbentuk lahan baru. Sedangkan yang disebabkan oleh faktor manusia karena masyarakat disana tidak memanfaatkan lahan tersebut. Hal ini karena lahan yang terbentuk akibat dari penurunan air danau tanahnya berpasir. Sehingga sulit untuk dimanfaatkan. Dari hasil grid jumlah kotak yang dapat dihitung yaitu sebanyak 7 kotak. Dari hasil kali antara jumlah kotak dengan luas kotak di lapangan. Hasil yang diperoleh adalah 69 ha atau 0,69 km2.
IV. Hutan
Hutan merupakan lahan yang masih alami di kaldera ini. Lokasi hutan ini berada pada bagian bentuklahan bentukan asal proses Denudasional. Dalam kajian ini, yang akan dicari luas obyeknya adalah hutan yang ada disebelah barat lahan kosong di Tanau Tamblingan. Dari hasil grid diperoleh jumlah kotak sebanyak 111 kotak. Setelah dikalikan dengan luas satu kotak di lapangan diperoleh hasil yaitu 999 ha atau 9,99 km2. dalam interpretasi terdapat beberapa obyek hutan, pada masing-masing bentuklahan dengan kemiringan lereng yang berbeda.
V. Perkebunan
Obyek perkebunan dapat identifikasi pada daerah lereng tengah kaldera Beratan Purba. Perkebunan di sisi berupa kebun campuran. Jika dilihat dari luasnya, perkebunan ini memiliki daerah yang sangat luas. Setelah dihitung jumlah kotaknya diperoleh jumlah 95 kotak. Setelah dikalikan 9 ha diperoleh luas perkebunan yaitu 855 ha atau 8,55km2.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dari hasil praktikum fotogrametri yaitu sebagai berikut:
4.1.1. Dari hasil interpretasi foto udara inframerah berwarna semu skala 1 : 30.000 di daerah kaldera Beratan Purba yaitu khususnya di sekitar kawasan Danau Buyan dan Danau Tamblingan ada beberapa obyek yang dapat dideliniasi yaitu berupa hutan, permukiman, lahan kosong, danau, dan perkebunan.
4.1.2. Dengan mengetahui obyek-obyek yang akan dihitung luasnya maka dilakukan perhitungan luas pada peta dan dicari luas yang sebenarnya. Untuk mengetahui luas obyek pada peta, dilakukan sistem perhitungan luas sederhana yaitu sistem grid. Setelah diketahui jumlah kotak pada obyek, selanjutnya dikalikan dengan luas kotak di lapangan. Dari hasil perhitungan diperoleh luas masing-masing obyek yaitu sebagai berikut :
I. Danau Tamblingan luasnya 171 ha atau 1,71 km2.
II. Permukiman luasnya yaitu 261 ha atau 2,61 km2
III. Lahan Kosong Luasnya yaitu 69 ha atau 0,69 km2.
IV. Hutan Luasnya yaitu 999 ha atau 9,99 km2
V. Perkebunan luasnya yaitu 855 ha atau km2.
4.2. Saran-saran
􀂙 Dari praktikum yang dilaksanakan diharapkan untuk menyediakan data acuan berupa Peta tematik dan alat perhitungan luas pada peta sehingga hasil dari interpretasi datanya lebih akurat.
􀂙 Setelah menginterpretasi foto udara yang akan dikaji, diharapkan untuk mengobservasi ke daerah yang terkait dengan membandingkan obyek-obyek hasil dari interpretasi di dalam kelas. Sehingga pemahaman terhadap fotogrametri akan lebih mendalam.
DAFTAR PUSTAKA
Dibyosaputro, Suprapto. 1997. geomorfologi Dasar. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Ejasta, IKM. 1998. Kesesuaian Lahan Kering Tanaman Palawija Di Kecamatan Tejakula Kabupaten Tingkat II Buleleng. Singaraja.
Hartono, DEA DESS. 2004. Aplikasi Penginderaan Jauh dan SIG di Bidang Pendidikan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Kiefer dab Lillisand. 1993. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Suharyadi. 1991. Sistem Informasi Geografi. Universitas Gajdah Mada. Yogyakarta.
Sutanto. 1983. Pengetahuan Dasar Fotogrametri. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Sistem Informasi Geografi

Pengantar

Sebagai seorang pengambil kebijakan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang Penginderaan Jauh (PJ) yang meliputi wahana, sensor, sisitem pengiriman data, desiminasi data, dan aplikasi data. Selain itu seorang pengambil kebijakan harus juga menguasai Sistem Informasi Geografi (SIG) yang meliputi bidang-bidang hardware, software, pemetaan, GPS, ilmu kebumian, dan ilmu wilayahlainnya. Di Indonesia, SDM pada bidang-bidang tersebut belum berkembang secara merata. Pada bidang aplikasi data lebih banyak ditekuni dari pad bidang-bidang yang lain. Oleh karena itu SDM PJ dan SIG perlu dikembangkan sesuai dengan porsi masing-masing. Selain itu, SDM PJ dan SIG ynang telah ada perlu diatur dan dikelola dengan lebih baik agar dapat diberdayakan untuk penanganan data Sumber Daya Alam dalam rangka pengembangan wilayah.

Pada intinya disini yaitu pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan memerlukan data dan informasi yang dapat diperoleh dari analisis PJ dan SIG. Setiap data penginderaan jauh dicirikan dengan sifat spasial, spectral dan tenaga temporal memilki peran yang khasterhadap perolehan data sumberdaya alam dan lingkungan. Manfaat PJ dan SIG terasa diberbagai bidang sperti pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan, pengembangan wilayah, kajian bencana alam dan dampak lingkungan, pendidikan, kesehatan dan pajak. (Hartono, 2004).

Didini penulis akan mencoba sebagai seorang pengambil kebijakan pada daerah Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng dalam rangka pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. Sehingga akhirnya nanti dapt menyusun erencanaan pengembanganpotensi yang paling cocok dikembangkan sehingga dapat menyusun perencanaan pengembangan potensi daerah agar pengmbilan keputusan dapat secara tepat.

Rasional

Kecamtan Tejakula merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Buleleng. Letak Secara astronomis kecamatan Tejakula terletak pada 8°56’LS - 115°8¢BT. Sedangkan secara administrasi kecamatan Tejakula memiliki batas wilayah sebagai berikut:

  1. Bagian utara berbatasan langsung dengan Laut Bali.
  2. Bagian timur berbatasan dengan Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem.
  3. Bagian selatan berbatasan dengan Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
  4. Bagian barat berbatasan dengan Desa Bukti Kecamatan Kubutambahan.

Mengenai luas Kecamatan Tejakula adalah 97,68 Km². Keseluruhan luas kecamatan ini terbagi dalam 10 desa yang ada di Tejakula. Adapun luas masing-masing desa yaitu:

No

Nama Desa

Luas (Km²)

1

Desa Tembok

10,81

2

Desa Sambirenteng

9,40

3

Desa Panuktukan

6,25

4

Desa Les

7,69

5

Desa Tejakula

13,96

6

Desa Madenan

13,73

7

Desa Bondalem

6,69

8

Desa Julah

4,70

9

Desa Sambiran

17,79

10

Desa Pacung

6,66

Sumber : BPS, 2002 dalam Skripsi Nicola Da Costa Baros (2003)

Dari luas 97,68 Km², penduduknya yang tersebar sebagian besar memanfaatkan lahan pada sector pertanian lahan kering, yang berupa tegalan, perkebunan campuran dan pekarangan. Akan tetapi pemanfaatan lahan pertanian belum maksimal, sehingga pendapatan masyarakat menjadi rendah. Dengan keadaan yang demikian maka sebagai seorang pengambil kebijakan memerlukan sumber informasi utuk diproses dengan berbagai pendekatan sehingga pada nantinya menemukan solusi pemecahan masalah tersebut agar menjadi lebih baik.

In Put (sumber informasi yang diperlukan) meliputi :

1. Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Kecamatan Tejakula.

2. Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Tejakula Skala 1 : 25.000

3. Peta Topografi Kecamatan Tejakula Skala 1 : 25.000

4. Data Curah Hujan

5. Data observasi Kelapangan.

Pemrosesan

Dari Sumber Informasi tersebut diatas maka penulis akan mencoba mengolah data tersebut, mulai :

1. Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Kecamatan Tejakula.

Informasi yang akan diperoleh nanti sangat banyak. Untuk menggali informasi yang ada pada foto udara, kita sudah memahami unsur-unsur interpretasi foto udara yang meliputi langkah-langkah sebagi berikut :

a. Deteksi

Deteksi merupakan tahap awal dalam interpretsi foto udara yaitu menemungenali obyek yang akan dikaji dengan mengunakan jenis foto udara tertentu. Dalam kaitan praktikum pengindaraan jauh ini. Fenomena yang terlihat adalah bentuklahan, penggunaan lahan, kemiringan lereng yang mempunyai karakteristik tersendiri. Dari hasil deteksi gambaran awal yang diperoleh yaitu mengenai :

v Bentuklahan.

Kecamatan Tejakula bentuklahan yang dapat dikenali antara lain Bentuklahan bentukan lahan asal Denudasional pada bagian lereng atas sampai lereng tengah dan Bentuklahan bentukan asal proses Fluvial dengan dataran Aluvial pada lereng bawah atau kaki dan Bentuklahan bentukan asal proses marin pada bagian tepi pantainya.

v Kemiringan lereng

Kemiringan lereng biasanya mengikuti bentuklahan yang terdapat pada foto udara. Pada Bentuklahan bentukan asal proses Denudasional pada daerah ini kemiringan lerengnya berkisar antara 8-55% atau pada tingkat III-V menurut klasifikasi kemiringan lereng A. Desaunettes. Sedangkan pada bentuklahan bentukan asal proses Fluvial berkisar antara 2-8%, dan 8-16% atau pada tingkat II, sedangkan untuk dataran Aluvial begitu juga dengan bentuklahan asal marin memiliki kemiringan lereng berkisar antara 0-2%.

v Penggunaan Lahan

Seperti kemiringan lereng, penggunaan lahannya juga biasanya mengikuti kemiringan lereng dan bentuklahannya. Yaitu pada bentuklahan Denudasional penggunaan lahan yang dominan dapat dideteksi adalah hutan, dan kebun campuran dan tegalan. Sedangkan pada bentuklahan fluvial terdeteksi penggunaan lahannya yang dominan adalah permukiman dan jalan. Seta pada bentuklahan asal marin penggunaan lahannya belum dapat dikenali.

b. Identifikasi

Tahap berikutnya adalah melakukan indentifikasi terhadap obyek yang kita kaji dengan mencirikan obyek yang telah telah dideteksi dengan menggunakan keterangan yang cukup seperti unsur-unsur interpretasi citra yaitu: rona, bentuk, situs, ukuran, tekstur, pola, tinggi, bayangan dan asosiasi. Dengan mengunakan alat sterioskop cermin dan berpedoman pada unsur-unsur interpretasi citra, maka fenomena-fenomena pada foto jelas terlihat seperti kenampakan:

a. Permukiman dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Rona : cerah

Warna : merah cerah

Tekstur : kasar

Bentuk : kotak-kotak

Pola : mengelompok dan mengikuti jalan.

b. Kebun campuran dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Rona : gelap

Warna : merah gelap

Tekstur : kasar

Ukuran : luas

Pola : megelompok

c. Jalan aspal dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Rona : sangat terang

Warna : merah sangat cerah

Tekstur : halus

Ukuran : sempit

Bentuk : pita/garis memanjang.

d. Hutan dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Rona : gelap

Warna : merah gelap

Tekstur : kasar

Ukuran : luas

e. Tegalan dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Rona : agak gelap

Warna : merah agak gelap

Tekstur : kasar

Dari obyek-obyek yang dapat diidentifikasi tersebut diatas, lokasinya berada pada di beberapa bagian foto udara.

c. Klasifikasi.

Pada tahap klasifikasi yaitu dengan mengelompokan fenomena-fenomana yang sama dari hasil deteksi dan identifikasi terhadap fenomena yang tampak dalam foto udara. berdasarkan hasil klasifikasi yang dilakukan dengan mengelompokan kesamaan fenomena yang tampak pada foto yaitu sebagai berikut :

Ø Bentuklahan.

Dari hasil klasifiaksi yang dilakukan maka bentuklahan Kecamatan Tejakula adalah terdiri dari 3 bentuklahan yaitu : Bentuklahan bentukan asal proses Denudasional, Bentuklahan bentukan asal Fluvial dengan dataran Aluvialnya, dan Bentuklahan bentukan asal proses marin.

Sebagain besar daerah Buyan Dan Tamblingan memliki betuklahan bentukan asal proses Denudasional yang berupa perbukitan Denudasional terkikis kuat pada lereng atas, terkikis lemah pada lereng tengah perbukitan dan terkikis lemah pada bagian kaki lereng. Perbukitan Denudasional ini terbentang dari timur Tejaklua kebarat pada sisi selatannya. Bentuklahan yang lain yaitu berupa Bentuklahan bentukan asal Fluvial yang dibentuk oleh adanya gerakan air yang mengalir dan proses sedimentasi dari dataran tinggi ke daerah yang lebih rendah. Bentuklahan ini berhubungan dengan daerah-daerah penimbunan seperti lembah-lembah, sungai-sungai besar dan dataran Aluvial. Dataran Aluvial ini berada di sisi utara bentuklahan denudasional. Sedangkan bentuklahan asal marin membentang pada garis pantai kecamatan Tejakula.

Ø Kemiringan Lereng.

Dilihat dari bentuklahan di atas maka dapat diklasifikasi kemiringan lereng sebagi berikut:

Pada Bentuklahan bentukan asal proses Denudasional pada daerah ini kemiringan lerengnya berkisar antara 8-16% (agak curam/tingkat III), 16-25% (curam/ tingkat IV), dan 25-55% (sangat curam/ tngkat V) Sedangkan pada bentuklahan bentukan asal proses Fluvial berkisar antara 2-8% (landai/ tingkat I), dan 8-16% melereng/tingkat II) dan untuk dataran Aluvial dan bentuklahan asal marin memiliki kemiringan lereng berkisar antara 0-2% (datar/ tingkat I).

Ø Penggunaan Lahan.

Pengaruh bentuklahan dan kemiringan lereng sangat berkorelasi pada penggunaan lahan begitu juga pada daerah pengamatan ditemukan berbagai variasi penggunaan lahan. Berdasarkan pengaruh tersebut maka penggunaan lahan yang dapat diindentifikasi adalah sebagai berikut :

· Pada bagian lereng atas dengan bentuklahan Denudasional terkikis kuat hanya ditemukan penggunaan lahannya hanya hutan, dan tegalan. Hal ini dipengaruhi oleh kemiringan lerengnya sangat curam. Dan tidak cocok untuk permukiman.

· Pada bagian lereng tengah dengan bentuklahan Denudasional terkikis sedang, penggunaan lahannya berupa, jalan, permukiman, dan tegalan. Sedangkan pada bentuklahan Fluvial terkikis sedang di lereng tengah ini penggunaan lahannya berupa, jalan, permukiman dan kebun campuran.

Pada bagian lereng kaki dengan bentuk lahan terkikis lemah terdapat bentuklahan Fluvial lemah terdapat penggunaan lahan berupa : jalan, permukiman, sawah, kebun campuran dan tegalan. Sedangkan pada bentuklahan Aluvial terkikis lemah yang sempit yang berlokasi di pinggir selatan danau, penggunaan lahan berupa pemukiman penduduk, jalan dan kebun campuran.

4. Evaluasi/ Analisis.

Evaluasi/ analisis adalah tahap akhir dalam interpretasi citra yaitu dengan menarik kesimpulan atau menganlisis tahap-tahap interpretasi sebelumnya yaitu menganalisis dari hasil deteksi, identifikasi dan Klasifikasi terhadap fenomena pada foto udara yang dikaji. Berdasarkan tahap-tahap tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Penggunaan lahan diperuntukan untuk pertanian dan kering yang berupa tegalan dan kebun campuan.

Ari hasil interpretasi foto udara tersebut maka diperoleh sejumlah peta yang memudahkan dalam perencanaan pengembangan wilayah yaitu :

Ø Peta Bentuklahan Hasil Interpretasi Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Kecamatan Tejakula.

Ø Peta Kemiringan Lereng Hasil Interpretasi Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Kecamatan Tejakula.

Ø Peta Penggunaan Lahan Hasil Interpretasi Foto Udara Inframerah Berwarna Semu Skala 1 : 30.000 Kecamatan Tejakula.

Pendekatan iklim

Setelah melakukan Interpretasi Foto Udara langkah selanjutnya yaitu mengkaji iklim Kecamatan Tejakula. Dalam mengkaji iklim, diperlukan data curah hujan minimal dalam jangka waktu 10 tahun. Berhubung penulis belum memperoleh data curah hujan dalam decade terakhir, maka kami mengutif dari literature yang berkaitan dengan kondisi Iklim kecamatan Tejakula. Yaitu Tejakula memiliki tipe iklim E(kering) yaitu menurut tipe iklim Smith dan Ferguson.

LUAS WILAYAH MENURUT PENGGUNAANNYA DIRINCI PER DESA/ KELURAHAN, TAHUN 2004

Desa/Kelurahan

Luas

(Km²)

Sawah

(ha)

Tegalan

(ha)

Perkebunan

(ha)

Pekarangan

(ha)

1. Sembiran

17,79

-

966,80

726,00

55,00

2. Pacung

6,66

-

564,00

43,00

25,00

3. Julah

4,70

-

389,30

51,00

23,30

4. Bondalem

6,69

-

560,00

50,00

51,00

5. Madenan

13,73

-

635,00

592,00

48,00

6. Tejakula

13,96

-

400,50

374,00

88,00

7. Les

7,69

-

274,00

125,00

52,00

8. Penuktukan

6,25

-

183,00

53,00

75,00

9. Sambirenteng

9,40

-

525,00

44,00

44,00

10. Tembok

10,81

-

700,00

79,00

56,00

Sumber : - Kepala Desa se-Kecamatan Tejakula

- Mantri Pertanian Kecamtan Tejakula